Pengumpan:
Tulisan
Komentar

12:10:25 AM WITA
11:11:48 PM WIB

Since I can’t sleep, I’m posting some of my writing during my labelling trip.
Later, there will be some to be edit, and photos to be inserted.

Selasa, 4 Oktober 2011
Tiba di bandara Sam Ratulangi pukul 1.55, WITA sesuai dengan perkiraan waktu pihak Batavia Air. Nice and smooth flight, Alhamdulillah.

Menunggu bagasi sekitar 50 menit.
Ya. Cukup lama.

Menuju lokasi pertama, dan ternyata tidak keburu, setelah makan siang di waktu sore, and I decide directly to Tahuna, because it’s gonna take a long journey there.

Kapal Terra Sancta namanya, kapal berkapasitas sekitar 150-200 orang, terdiri dari 3 lantai, dek 2 dan dek 1 ekonomi dengan tempat tidur atas-bawah berjejer model barak sepanjang ruangan, sedangkan lantai teratas, terdiri dari beberapa kamar dan 1 kamar hanya terdiri 4 tempat tidur.

Dek 1
Jadwal berangkat pukul 7 malam, dan tiba di Tahuna pukul 5 pagi.
Seharusnya.

Aku yang penasaran, ingin mencoba yang kelas ekonomi, well, masalah harga juga selisih 100ribu-an siy.
But, then, I truly regret it.

Pengap, panas, bercampur udara yang penuh dengan asap rokok dan tempat tidur yang bau apek asemnya, kemungkinan sejak kapal dibuat belum pernah dicuci.
(Belakangan baru aku tau, mungkin krn lokasi tempat tidurku di pojok, gelap, jadi ampun-ampunan bau rat’s pee-nya)

Tak tahan dgn situasi dek 1 yang di lantai 2, maka selama menunggu kapal bersauh, aku duduk-duduk di depan kamar di lantai 3, menatap laut dan orang-orang.

Ada bule, cowok, ganteng, sendirian. Ditemani ngobrol entah oleh siapanya tadi, kemudian sekumpulan lelaki yg mengajak ngobrol itu turun kapal.

And I’ve made up my mind, pulang nanti harus di kamar kapal!.
Bukan!
Bukan karena bule-nya itu, tapi baru sadar, kondisinya beda sangat dengan kelas ekonomi.

Dan
9:03:47 PM
Kapal masih belum bersauh.

Kapal baru benar-benar bersauh pukul 9.55 WITA (atau 8.55 WIB).
Itu, ternyata karena menunggu pasokan air untuk toilet.
Gosh!
Antara kesel dan salut.
As we all know, kebersihan adalah sebagian dari iman.
Akupun mengukur tingkat kebersihan seseorang dari kamar mandinya.
Berbau atau tidak.
Rasul pun juga menyuruh umatnya menjaga kebersihan Masjidnya, bukan termasuk pengikut sunnahnya apabila tidak menjaga kebersihan.

Kapal Terra Sancta ini religius sekali.
Setelah 5 menit angkat sauh.
Pendeta (maaf, saya lupa namanya) memimpin doa dengan menyebut trinitasnya melalui pengeras suara yg yang ada di tiap-tiap dek, dan kebetulan tempat tidur saya bersebelahan persis dengan speaker sound-nya.

Intinya adalah, mohon perlindungan pada pelayaran malam itu, karena laut salah satu dari kekuasaan-NYA, manusia hanya bisa pasrah.

10:58:22 PM
I can’t sleep, the smell of the bed, I couldn’t help it, I can deal with the warm and moisture temperature, but not with bad smell of rats pee.
Eh, sempet tertidur ko, sampai makhluk kecil berbulu coklat mengendus-endus telapak kakiku dan aku terbangun kaget.
Kenapa aku?
Apa salahku?
Jelas salah, setelah sadar kalau ibu disebelahku memakai kain utk menutupi kakinya, dan seorang Bapak memakai kaus kaki padahal udara lembab dan panas.

Lalu aku memutuskan keluar dek, dan duduk di pinggiran kapal menatap langit.
Laut di malam hari itu gelap ya.
Pernah seperti ini, Krakatau dan Kiluan, tapi pada dua event itu, tidak terlalu memperhatikan langit.

Subhanallah, langitnya penuh bintang.
Tanpa polusi cahaya, jernih sekali cahaya bintangnya.

Mungkin, manusia pun seperti itu.
‘Polusi’ membuat individu tak bisa terlihat atau melihat dengan jernih.

I can’t believe it!
I just watch the falling star
Aaaaaaa
11:16:41 PM around 3 minutes ago

Permainan
‘Make a wish on a falling star’ itu impossible.
Semua manusia pasti terlalu terpana sampai akhirnya bintang itu menghilang, which the process might not be more than 2 second :p

I made up my mind, I won’t sleep at my bed, it smells so bad and the rats.
Berkeliling mencari tempat tidur kosong, found it!,
Entah milik siapa, biarlah :p.

6:37:39 AM
Kapal sudah hampir berlabuh di Tahuna, dan terlihat jelas pemandangan Gunung Awu dr Laut, Subhanallah, sungguh mirip Sembalun!

Hal paling menyenangkan pada perjalanan laut di kala malam itu, cakrawala yang yang dipenuhi bintang seakan menyatu dengan garis batas laut.
Langit dan laut seperti menyatu.

And here are some of my poems during the sea-trip :p.
Berhubung ga bisa twitteran, maka akhirnya hanya aku ‘save draft’.

Lentera kapal nelayan di tengah laut malam seperti cahaya bintang ya. Kadang meredup.

Kerlip bintang yang turun ke bumi itu, matamu.

Aku ingin seperti kapal kecil nelayan ditengah laut malam. Yg setitik di kejauhan, cahayanya menari, untukmu.

Atau seperti bulan separo, di tengah gelap hutan. Meski tak sempurna, tapi menerangi tapak langkahmu.

Atau seperti cahaya mercusuar, menuntunmu.

Btw, di pelabuhan manado ada dua mercusuar loh. cahayanya itu ada yg hijau ada yg merah. Satu mercusuar, satu warna.

Keduanya hidup berdampingan. Rukun.

Entah semalang apa nasib seseorang yg terdampar di lautan seorang diri di tengah malam pula. *bgidik*

Ketika kau sendirian dalam perjalanan, somehow, daya survival membuatmu lebih memperhatikan sekeliling dan lebih melihat detil.

Kupikir lautan sedang menenggelamkanku, ternyata kau sedang menatapku.

Bintang-bintang, bukannya membentuk rasi, kenapa malah menggugus namamu?

back to writing

Setelah mendownload wordpress for blackberry beberapa minggu yang lalu, baru kali ini posting.

Masih banyak trip yang belum terkisahkan.
Ujung Kulonpun belum sampai kami ber-dadah-dadah di pintu keluar tol pukul 1-an dini hari.

Dan
Wordpress ini sepertinya akan digunakan sebagai blog trip-a-story dan laporan-pandangan-mata ;) .

Mari menulis!

Ujung Kulon

Pra:

Koordinasi via email (sebagai follow up perkenalan di FB), terjadi mulai awal Juli antara ketuplak (Yuni)-Ika dan Widya, dengan peserta yang semakin hari terus bertambah sampai puluhan, hingga membuat sang ketuplak memperbanyak jumlah seat  dari 15 menjadi 25, otomatis yang tadinya berencana sewa elf, mau tak mau untuk mengangkut sejumlah itu dan memangkas biaya daripada sewa 2 elf, maka disewalah 1 bis.

Saling kenal via email : checked!,  diputuskan perlu kopi darat demi lancarnya trip Ujung Kulon ini dan lebih mengenal satu sama lain, yang melalui voting, dipilih hari Jum’at, 070809, pukul 7-an malam, lokasi: food court, plaza semanggi.

Sebelum kopi darat (dan ‘dikukuhkan’ ketika kopi darat), ada usulan untuk membagi  menjadi beberapa kelompok, dari 25-an terbagi 4 kelompok, dengan 1 kelompok berisi antara 6-7 orang.

Beginilah list kelompoknya

kelompok 1
ika-widya-omar-wahyu-hartini-debby

kelompok 2
aris-heri-hendra-evi-ratri-yuni-arif

kelompok 3
robby-probo-choice-agustina-ida-wina

kelompok 4
yudhis-bayu-rizki-uchi khomsah (kelak diganti Aan)-retno-nizar-*kelak bertambah Yane*

Pada kopi darat pertama dan terakhir sebelum tanggal 14 Agustus itu, dengan teleconference antara ketuplak yang bermukim di Bandung dan hadirin yang hadir, menghasilkan beberapa keputusan (via email)

Lanjut Baca »

Bromo-Sempu…Matarmaja otw home-part

Perahu mengantar kami ke Sendang Biru sekitar pukul 10-an lewat, dan kami masih terjebak dalam khayalan ‘heroisme-heroisme’.

‘eh, mungkin anak-anak ngeliat kita langsung pada teriak dan meluk2 kali ya’

‘siapa tau mereka udah nungguin kita’

‘iya, iya, pasti mereka udah khawatir dan nungguin kita di pinggir dermaga’

Sepanjang perjalanan hanya itu yang kami bahas.

Setengahnya karena luapan emosi yang baru saja kami alami beberapa jam sebelumnya, setengahnya karena kami merindukan setengah bagian kami (halah! #apadeh) dan kekhawatiran yang belum terjawab dengan mata kepala sendiri meski porter yang membawakan tas kami menyampaikan sedikit kabar tentang mereka.

Lanjut Baca »

Bromo-Sempu…Sempu Part

Tiba di Sendang Biru – around 3 PM

Menatap langit yang agak sedikit mendung, setelah lelah tertidur … dalam perjalanan selama kurang lebih 5 jam jarak tempuh bromo-sendang biru.

Dari seat paling belakang (yang entah kenapa sepertinya sudah menjadi default seat for me everytime I go anywhere with anyone) … menatap pak heri yang konsentrasi mengemudi tanpa teman bercakap-cakap…

*sigh, padahal aku sengaja tukeran seat dengan reza karena kupikir reza bakal mengajak pak heri ngobrol…dan aku bisa tidur dengan tenang tanpa merasa bersalah wkwkwkkwkwk, piss za

Di seat tengah berurutan: abie-nisa-siska-oneng…errr…maksudnya anna

Seat belakang : fanny-umi-moi

Menatap anak-anak dari jok belakang dengan gaya tidurnya masing-masing, pasti kelelahan setelah menunggu sunrise di pananjakan dan berlanjut mendaki bromo.

The others were riding L300, they’re quite comfortable there I guess.

Melalui jalanan berliku-liku, estimasi 6 jam ternyata dapat ditempuh dalam 5 jam…cool! karena kita meninggalkan padang pasir Bromo sekitar jam 9 kurang, dan ga sempet mampir ke savanna *sad*

Tiba di Sendang Biru, menjamak shalat zhuhur dan Ashar, berhajat juga pastinya hohhoohohoho … re-packing carrier (meninggalkan yang ga perlu dibawa di mobil).

Setelah semua hampir siap untuk berangkat, Robby reminds me and Anna:

“ga beli ikan buat dibakar?”

We agreed

Lalu, aku dan Anna diantar naik mobil oleh pak Heri menuju pelelangan ikan yang jaraknya ternyata lumayan jauh kalau jalan kaki, memilih ikan, menawar harga, sampai aku teringat:

“eh, nanti kita bakarnya gimana ya?”

Pak Heri menatap kami:

“memang kalian ga bawa peralatannya?”

Kami cuma nyengir, dan menggeleng.

Pak Heri pun speechless, akhirnya kami kembali menuju dermaga dengan tangan kosong dan diiringi hujan yang sudah turun lumayan deras.  Tiba di dermaga, 2 perahu menanti dengan tim blackers yang sudah siap cao….Robby waiting for me and Anna, our carrier were already save in the boat, thanks to sapapun yang udah ngebawain :D … but the rain still pouring us down.

Ga sampai 10 menit, perahu tiba di pulau sempu, sebelumnya ibu penduduk memberitahu kami, kondisi tracking yang bisa memakan waktu sampai 5 jam dengan jumlah blackers saat itu, 2 jam apabila hanya ber4.  Nobody thinks anything, dalam pikiran kami, ‘jalanin aja’ …. saat itu waktu sudah hampir pukul 4, jadi kurang lebih 2 jam tersisa untuk tracking dalam keadaan terang.

Setelah semua turun dengan bawaan masing-masing, aku berjalan agak lebih dulu, beriringan dengan hendra, fanny, iis, desi….

With my heavy carrier, all I can think was “hurry-hurry-hurry, the slower u are, the heavier it gets” …. And I’m sure everybody thinks the same.

The rain were still pouring us down, and no sign about to stop in any minute.

Untuk yang sudah pernah ke Pulau Sempu, pasti tau kondisi track yang harus dilalui, katanya sih cukup berat…

Well, tambahkan dalam imajinasimu dengan genangan air dimana-mana, lumpur ‘jebakan bet-men’, bebatuan licin dan hujan yang masih terus setia menemani kami.

Lanjut Baca »

Bromo-Sempu…Bromo-Part

Bromo-Sempu…Malang-Part
And, walah!, Colt membawa kita tiba di Malang, tepatnya di penginapan Helios pukul 10-an.
Sudah disediakan 4 kamar untuk Blackers, 2 for the ladies, 2 for the gents, dan begitu sampai yang pertama dicari blackers adalah:

Colokan

Yup, hidup di dunia ‘nirkabel’ sudah merupakan suatu kebutuhan, salah satu kebutuhan mendasar juga rupanya.  Penuh dengan berbagai macam charger pada ‘colokan’ di tiap kamar, sementara antrian toilet masih mengular, robby-aku-hendra menuju ruang informasi di bagian depan..

Memastikan beberapa hal, bertanya beberapa rute, disini, setelah berdiskusi dengan mas-mas yang tiada lelahnya menjawab pertanyaan kami, kami memutuskan untuk berkunjung ke Air Terjun Coban Rondo, lalu berlanjut ke Batu Night Spectaculer.   Dengan alasan, Coban Rondo, paling memungkinkan dari segi waktu, dan Batu Night Spectaculer adalah ‘taman bermain’ yang dilalui setelah kita pulang dari coban rondo, so, this is it! We got some place to go while waiting for about 14 hours heading to Bromo.

Setelah urusan ‘destinasi’ selesai, pukul 11-an, kami beriringan menuju tempat makan yang ‘layak’ dicoba untuk brunch.  Sempat nyasar masuk ke pasar, sebelum berakhir di bebek Gong yang ngakunya nasi bebek termurah se-Indonesia, tapi, berhubung waktu menunjukkan shalat Jum’at, sebelum sempat mencicipi, blackers-guys (sungguh tidak konsisten dengan penyebutan gender-nya) menuju masjid yang jaraknya tidak jauh.

Sementara itu, kami, blackers-chicks melanjutkan makan yang ternyata rasanya biasa-biasa saja, dengan menu yang ‘lagi kosong’ atau ‘sudah habis’.

Selesai shalat jum’at dan brunch, bersiap-siap menuju Air Terjun Coban Rondo.  Dengan colt yang nyaman banget, dan 1 kijang yang juga nyaman, 18 blackers sudah bersiap menuju petualangan baru.

Perjalanan menuju Air Terjun Coban Rondo, kurang lebih 45 menit-an, legenda air terjun coban rondo di papan informasi mengatakan, newly married pangeran dan putri, tidak menuruti kata orang tua mereka, bahwa setelah menikah, mereka tidak boleh bepergian paling tidak 3 bulan, and so the story goes, a bad guy falls for the princess, and the prince fight for his loved one, but too bad he died, sang putri yang bersembunyi di coban rondo tidak mengetahui ini dan terus menunggu di batu besar dekat air terjun untill the end of her life.

Foto-foto : done! … -> acara utama nih huehehehhehhe.

Sedikit gerimis, ketika kami meninggalkan Air Terjun Coban Rondo.  Menuju Batu Spectaculer Night kurang lebih 30 menit-an dari Coban Rondo, melewati pemandangan kota malang dari atas dengan Gunung Arjuna sebagai latar belakang yang sayangnya sedang tertutup awan.  Batu Spectaculer Night itu seperti puncak-nya Jawa Barat (kalau ga salah ya), dipenuhi dengan permainan-permainan, seperti dufan, meski ga se-ekstrim dufan sih.  Kami tiba di BNS sekitar pukul 5-an.

Lanjut Baca »

Bromo-Sempu…Matarmaja-Part

13-17 Mei 2010, butuh cuti 2 hari untuk menggenapi trip ini, trip yang di di planning sejak April (persis setelah P. Harapan, as usual, kegilaan yang ‘susul-menyusul’).

Hari-nya tiba, Kamis, 13 Mei 2010, bertemu di stasiun Ps Senen 12.00 WIB, dengan carrier masing-masing.   Makan siang, menjamak Taqdim Zhuhur-Ashar, semua sudah di lokasi, bahkan Anna datang untuk melepas kita plus membawakan makan malam K*C untuk diperjalanan (paket yang 15 ribuan kalo ga salah :p), Anna yang baru akan menyusul besoknya dengan penerbangan malam Sabtu, yup, semua sudah di lokasi kecuali Wahit, ..anak satu ini, suka bikin sport jantung.

*Sedikit OOT

Cerita Kamis, 25 Februari sore jam 3-an

BUZZ

wina (25/02/2010 15:03:49): yesss
Wahit (25/02/2010 15:04:09): uadh packing..
wina (25/02/2010 15:04:21): udah sih
wina (25/02/2010 15:04:26): tapi nanti di rambutan dibagi lagi
wina (25/02/2010 15:04:27): :D
wina (25/02/2010 15:18:33): wahit
wina (25/02/2010 15:18:34): kau gimana/
wina (25/02/2010 15:18:37): udah siapkah?
Wahit (25/02/2010 16:13:39): masih di kantor…blom packing juga….
Wahit (25/02/2010 16:13:43): hiks2…
wina (25/02/2010 16:13:51): tapi udah bawa tas kan?
wina (25/02/2010 16:13:56): and segala perangkat?
Wahit (25/02/2010 16:13:58): ya belom lah…
Wahit (25/02/2010 16:14:17): btw selain bawaan pribadi disuruh bawa apa lagi..?
Wahit (25/02/2010 16:14:28): sory gw gak update email….lgi overload kerjaan..hiks2

Wahit (25/02/2010 18:06:07): wina tungguin gw ya….

Sebetulnya pengen reply dengan agak panik, ‘whaaattt??, belon packing?’, tapi ditahan, toh, meeting point di rambutan jam 9 malam, masih keburu sih untuk pulang dan packing.

–oot done–

Ditelpon, ternyata masih di dalam bis daerah pancoran…jiaaahh, deg-degan, karena waktu menunjukkan pukul 1.30-an.

Alhamdulillah, Wahit tiba kurang lebih 15 menit-an sebelum jam 2.

Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.